![]() |
| lompat jauh |
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Persiapan fisik merupakan salah satu faktor yang
sangat penting dalam latihan untuk mencapai suatu prestasi yang sangat tinggi.
Dalam usaha meningkatkan prestasi atlet perlu ditingkatkan unsure-unsur kondisi
fisik, teknik, taktik, kematangan mental, kerja sama, dan kekompakan serta
pengalaman dalam bertanding.
Persiapan kondisi fisik sangat penting untuk
meningkatkan dan memantapkan kualitas teknik. Tanpa persiapan kondisi fisik
yang memadai maka akan sulit untuk mencapai prestasi yang tinggi. Tujuan dari
latihan kondisi fisik adalah untuk meningkatkan kualitas fungsional organ tubuh
sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan untuk mencapai prastasi yang optimal dalam
suatu cabang olahraga tertentu.
Sebagai calon
guru, Pembina dan pelatih oalahraga yang membina anak-anak (yunio) calon
olahragawan, benar-benar dapat memberikan dasar fisik yang kuat, sehingga
anak-anak yang berbakat nantinya akan dapat berkembang mencapai prestasi yang
optimal. Untuk itu olahraga ekstrakurikuler di sekolah hendaknya memiliki
wawasan yang luas dalam hal pembinaan prestasi, karena untuk mencapai prestasi
puncak dalm suatu cabang olahraga harus dimulai sejak usia muda dengan latihan
terencana, secaara benar dan mendasar.
- Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana Pengertian kondisi fisik?
2.
Apa saja Elemen-elemen kondisi fisik?
- Tujuan
Penulisan
1.
Untuk mengetahui Bagaimana Pengertian
kondisi fisik.
2.
Untuk mengetahui Apa saja Elemen-elemen
kondisi fisik.
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian
kondisi fisik
Kondisi berasal dari kata “condition” (bahasa latin)
yang berarti keadaan. Sedangkan secara definitif kondisi menurut Jopath/krampel
dalam Syafruddin (1992: 34) adalah keadaan fisik dan psikis serta kesiapan
seorang atlet terhadap tuntutan-tuntutan khusus suatu cabang olahraga.
Beberapa ahli mengemukakan batasan tentang
pengertian kondisi fisik, menurut Jonath dan Krempel kondisi fisik itu dapat di
bedakan atas pengertian sempit dan luas. Dalam arti sempit kondisi merupakan
keaadaan yang meliputi factor kekuatan, kecepatan, dan daya tahan. Sedangkan
dalam arti luas ketiga factor di atas ditambah dengan factor kelentukan (
fleksibility) dan koordinasi.
- Elemen-elemen
kondisi fisik
1. Kekuatan (strength)
Secara
fisiologis (ilmu faal) kekuatan merupakan kemampuan otot mengatasi beban atau
latihan, sedangkan secara fisikal (ilmu fisika) kekuatan merupakan hasil
perkalian antara massa dengan percepatan (acceleration). Dapat juga dikatakan
bahwa kekuatan merupakan kemampuan dasar kondisi fisik. Tanpa kekuatan orang
tidak akan bisa melompat, menarik, mendorong, mengangkat, menahan, lari, dan
sebagainya. Dalam arti lain bahwa kekuatan dibutuhkan dalm kebanyakan aktifitas
fisik.
Setiap cabang olahraga memerlukan kekuatan, beberapa
banyak dan beberapa besar kekuatan yang di butuhkan serta jenis kekuatan mana
yang diperlukan sangat tergantung kepada cabang olahraganya. Bentuk kekuatan
yang diperlukan sangat tergantung kepada cabang olahraganya. Dilihat dari
bentuk kekuatan yang dipergunakan maka kekuatan tersebut dapat dibedakan atas :
a.
Kekuatan maksimal
Kekuatan maksimal
merupakan kemampuan otot untuk mengatasi beban atau tahanan secara maksimal.
Kekuatan ini merupakan jenis kekuatan yang terbesar yang dapat di gunakan untuk
mengatasi beban atau tahanan, baik secara statis maupun secara dinamis.
Kekuatan maksimal di butuhkan terutama dalam cabang olahraga yang lebih banyak
mengatasi beban luar, misalnya olahraga angkat besi, gulat, angkat berat, dan
nomor-nomor tolak dan lempar dalam cabang atletik.
b.
Kekuatan kecepatan
Kekuatan kecepatan
merupakan kemampuan otot untuk mengatasi beban atau tahanan dengan kecepatan
kontraksi yang tinggi. Kemampuan tersebut merupakan kombinasi antara kekuatan
dan kecepatan. Kebanyakan cabang olahraga membutuhakan kekuatan kecepatan atau
power. Misalnya pada cabang olahraga yang menuntut ledakan seperti lompat dan
smash pada permainan bola voli, tolak, lempar, dan lompat dalam cabgng atletik.
2. Kecepatan (speed)
Kecepatan merupakan satu elemen kondisi fisik yang
sangat penting. Secara fisiologis kecepatan diartikan sebagai kemampuan yang
berdasarkan kelentukan (flexibility). Jonath dan Krempel (1981) mengatakan
bahwa kecepatan adalah proses sistem persyaratan dan alat-alat otot untuk
melakukan gerakan-gerakan dalam satu satuan waktu.
Kecepatan sangat tergantung dari kekuatan, karena
tanpa kekuatan, kecepatan tidak dapat berkembang atau meningkat. Bila seorang
atlet ingin mengembangkan atau meningkatkan kecepatannya maka dia harus
mengembangkan kekuatan, karena kemampuan kecepatan yang di peroleh sangat
tergantung dari impuls kekuatan dan merupakan produk dari masa tubuh dan
kecepatan tubuh itu sendiri. Pada dasarnya kecepatan itu dapat di bedakan atas
:
a.
Kecepatan reaksi
Kecepatan reaksi adalah
kemampuan untuk menjawab rangsangannya akustik, optik, dan rangsangan taktik
secara cepat (Jonath dan Krempel, 1981). Pada cabang-cabang olahraga permainan
kecepatan reaksi, lebih banyak terjadinya disebabkan rangsangan secara
penglihatan (mata). Sedangkan pada nomor-nomor lari dalam cabang atletik lebih
dominan di butuhkan reaksi melalui rangsangan (akustik).
b.
Kecepatan aksi (gerakan)
Kecepatan aksi
diartikan sebagai kemampuan, di mana dengan bantuan kebutuhan system syaraf
pusat dan alat-alat otot dapat melakukan gerakan-gerakan dalam satuan waktu
minimal (Letzeler, 1978).
3. Daya tahan (endurance)
Secara definitive daya tahan merupakan kemampuan
organisme tubuh untuk mengatasi kelelahan yang disebabkan oleh pembebanan dalam
waktu yang relative lama. Daya tahan merupakan salah satu elemen kondisi fisik
yang terpenting, oleh karena basis dari elemen-elemen kondisi fisik yang
lain.Daya tahan terdiri atas beberapa bagian yaitu sebagai berikut:
a.
Daya tahan umum
Kemampuan organisme
tubuh menghadapi atau mengatasi kelelahan akibat gerakan-gerakan yang lebih
banyak melibatkan kelompok-kelompok otot besar seperti lari jarak jauh.
b.
Daya tahan lokal
Kemampuan sekelompok
kecil otot dalam mengatasi kelelahan yang ditimbulkan akibat pembebanan yang
relatif agak lama, seperti kerja otot tangan pada tinju.
c.
Daya tahan aerob umum dinamis
Kemampuan mengatasi
kelelahan pada kerja dinamis yang melibatkan 1/6 sampai 1/7 dari keseluruhan
otot kerangka dengan intensitas gerakan lebih dari 50% dan lama beban antara 3
sampai 5 menit.
d.
Daya tahan aerob umum statis
Kemampuan mengatasi
kelelahan pada kerja statis dengan melibatkan suatu kelompok otot besar dan
pembenaan di bawah 15% dari kekuatan maksimal serta dengan pembebanan yang
relatif lama seperti menembak, panahan dan sejenisnya.
4. Kelentukan (fleksibilitas)
Kelentukan merupakan kemampuan tubuh untuk melakukan
latihan-latihan dengan amplitude gerakan yang besar dan luas. Dengan kata lain
kelentukan juga merupakan kemampuan persendian/pergelangan untuk dapat
melakukan gerakan-gerakan ke semua arah secara optimal.
Kelentukan merupakan salah satu unsure kondisi fisik
yang menentukan dalam; mempelajari keterampilan gerakan, mencegah cidera, mengembangkan
kekuatan, kecepatan, daya tahan dan koordinasi.
5. Koordinasi
Ada beberapa
batasan tentang pengertian koordinasi yang dikemukakan oleh para ahli, antara
lain adalah sebagai berikut:
a.
Suharmo (1982) koordinasi adalah
kemampuan seseorang untuk merangkai berbagai unsur gerak menjadi suatu gerakan menjadi suatu
gerakan yang selaras sesuai dengan tujuannya.
b.
Jonath dan Krempel dalam Syafruddin
(1992: 84) koordinasi merupakan kerjasama sistem persyarafan pusat sebagai
system yang telah diselarakan oleh proses rangsangan dan hambatan serta otot
rangka pada waktu jalannya suatu gerakan secara terarah.
c.
Hirtz (1981) koordinasi adalah kemampuan
yang ditentukan oleh proses pengendalian dan pengaturan gerakan.
Berdasarkan urain-urain seperti yang telah
dikemukakan di atas tentang pengertian koordinasi, maka sulit bagi kita untuk
merumuskan suatu definisi yang tepat tentang koordinasi tersebut. Sehingga
Bompa (1983) mengatakan bahwa koordinasi merupakan suatu kemampuan yang sangat
komplek, karena saling berhubungan dengan kecepatan, kelentukan, daya tahan,
dan kelentukan. Kemudian para ahli membedakan koordinasi atas dua bagian,
yaitu:
1.
Koordinasi otot inter
Merupakan koordinasi
antara otot-otot yang bekerja sama dalam melakukan gerakan. Kerja sama yang
dimaksud yaitu kerjasama otot antagonis dan agonis dalam suatu proses gerakan
yang terarah.
2.
Koordinasi otot intra
Merupakan koordinasi
yang terjadi dalam otot, ini berarti bahwa koordinasi otot intra tidak dapat
diamati, karena prosesnya di dalam otot tubuh manusia. Bagaimana suatu
rangsangan di koordinasika dalam tubuh yang dapat menimbulkan kontraksi otot.
- Unsur-unsur
kesegaran jasmani
Unsur dasar dari
kesegaran jasmani ( kondisi fisik ) adalah :
1.
Power ( Daya / tenaga ) Adalah kemampuan
mengeluarkan kekuatan / tenaga maksimal dalam waktu yang tercepat. Seseorang
yang mempunyai tenaga yang besar
-
Mempunyai kekuatan otot ( Muscular
Strength ) yang besar.
-
Mempunyai kecakapan untuk memadukan
kekuatan dan kecepatan.
-
Mempunyai kecepatan yang tinggi.
2.
Strength ( Kekuatan ) Adalah suatu
kemampuan dalam menggunakan daya atau kekuatan yang eksplosifterhadap suatu
obyek ( mendorong, menekan / mengangkat / menarik ).
3.
Speed ( Kecepatan ) Adalah kemampuan
seseorang untuk melakukan gerakan yang sama dengan baik, dalam waktu yang
tersingkat.
4.
Endurance ( Daya tahan ) Kemampuan alat
tubuh dalam melakukan pekerjaan yang berat dan berulang-ulang dalam waktu yang
relatif lama.
5.
Balance ( Keseimbangan ) Kemampuan
seseorang untuk mengontrol kerjanya alat tubuh yang bersifat neuromuscular (
meniti balok, dsb ).
6.
Agility ( Kelincahan ) Adalah kemampuan
seseorang untuk merubah posisi dan arah gerakan tubuhnya.
7.
Coordination ( Koordinasi ) Adalah kemampuan
seseorang untuk merangkaikan ( membulatkan ) bermacam-macam gerakan sedemikian
rupa sehingga merupakan gerakan yang bertautan.
8.
Accuracy ( Ketelitian / Ketepatan )
Adalah kemampuan seseorang untuk menguasai gerakan yang terkontrol terhadap
suatu sasaran ( menembak, menusuk ).
9.
Flekxibility ( Kelentukan ) Adalah
kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas jasmaniah dengan gerakan
sendi-sendi yang luas dan tidak kaku.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Setelah kami membuat makalah ini, kami dapat menyimpulkan
bahwa dalam olahraga sangat dibutuhkan sekali kondisi fisik, teknik,
taktik/strategi dan mental. Komponen dasar kondisi fisik meliputi : daya tahan
(endurance), kekuatan (strength), daya ledak (power), kecepatan (speed),
kelentukan (flexibility), kelincahan (agility), keseimbangan (balance), dan
koordinasi (coordination).
Dari komponen-komponen dasar kondisi fisik fisik
tersebut, perlu mendapat latihan yang sesuai dengan porsinya, karena komponen
tersebut mempunyai perbedaan dalam sistem energy, bentuk gerakan, metode
latihan, beban latihan dan lain sebagainya yang digunakan pada berbagai
kegiatan olahraga.
Tujuan pembinaan kondisi fisik antara lain adalah
untuk meningkatkan perkembangan fisik secara umumnya, bagian fisik yang khas,
menyempurnakan teknik dari olahraga yang dipilih atau dibina. Untuk
meningkatkan dan menyempurnakan taktik dan strategi serta cara belajar teknik
yang baik. Persiapan fisik berarti mempersiapkan fisik pada umumnya, persiapan
fisik khusus dan penyempurnaan kemampuan biomotor khusus.
- Saran
Dalam makalah ini penulis berkeinginan memberikan saran kepada pembaca
dalam pembuatan makalah atau karya tulis ini penulis menyadari bahwa masih
banyak terdapat kekurangan-kekurangan baik dalam segi bentuk atau dalam segi
isinya.
DAFTAR
PUSTAKA
Arsil.
(1999). Pembinaan Kondisi Fisik. Padang: FIK UNP
Erianti.
2004. Bola Voli. (Bahan Ajar). Padang. FIK UNP
Syafruddin.
(1999). Dasar-dasar Kepelatihan Olahraga. Padang: DIP Proyek UNP
https://orangsehat.wordpress.com/peningkatan-kondisi-fisik/

No comments:
Post a Comment